Kontrol Pemilik Dalam Proses Pembangunan

 

Ini menjadi pertanyaan sebagian orang ketika menggunakan jasa konstruksi untuk membangun atau  merenovasi rumahnya. Sebagian orang tentu menyerahkan kesemuanya dan percaya sepenuhnya dengan jasa kontraktor yang di pilihnya. Namun sebagain orang justru selalu ingin ikut campur selama proses pembangunan hingga mengganggu proses konstruksi. Pertanyaannya adalah, apakah owner sebaiknya telibat dalam proses pembangunan? Jika iya, lalu sejauh mana owner boleh terlibat?.
Kedua pertanyaan tersebut yang seringkali ada di dalam pikiran pemiliki rumah yang sedang melakukan pembangunan rumah. Kadangkala mereka memiliki rasa sungkan untuk mengontrol proses pembangunan karena takut mengganggu, namun dalam pikiran lain ingin rasanya untuk mengontrol agar proses pembangunannya sesuai dengan perjanjian dan harapannya.
Secara perhitungan hak dan kewajiban sebenarnya tidak ada salahnya pemilik untuk ikut terlibat dalam proses pembangunan, karena secara status mereka adalah pemilik rumah yang memiliki hak atas rumah tersebut, apa yang terjadi dengan rumahnya maka dia juga berhak tahu. Namun, keterlibatannya bukan berarti tanpa batasan. Justru akan menjadi kesalahan jika pemilik terlalu ikut campur, karena bisa mengganggu proses konstruksi dan menggganggu kesepakatan kerja. Oleh karena itu, dibutuhkan pemahaman tentang sejauh mana peranan pemilik selama proses pembangunan rumahnya berlangsung. Berikut ini peran pemilik yang bisa dilakukan saat proyek pembangunan berjalan.

  1. Memberikan arahan umum

Ini tentu peran yang harus dilakukan pemilik. Kepentingan utama adalah kepentingan dari pemilik bangunan tersebut. Desain apa yang diinginkan, pewarnaan, konsep arsitektur bangunan harus owner beritahukan kepada kontraktor. Arahan yang diberikan owner juga tidak ada salahnya sampai tataran yang detail seperti material apa yang digunakan, dimana lokasi pembelian materialnya, namun jangan sampai owner terlalu mendetailkan apa yang seharusnya bukan menjadi tugasnya. Akan lebih baik lagi jika owner menginformasikan kondisi lingkungan bangunan seperti iklim, kebisingan, atau bahkan aturan perumahan setempat berkenaan jam malam, keamanan perumahan, dll.

  1. Memberikan masukan

Bagi Owner yang paham dengan prosedur dan medan kerja dalam proses pembangunan rumah diperbolehkan untuk memberikan pemasukan kepada jasa konstruksi. Masukan lebih baik disampaikan dengan etika komunikasi yang baik, dan tidak menggurui. Tujuannya untuk menjaga suasana hati para pekerja proyek. Akan lebih baik, jika owner juga menjalin kedekatan dengan para pekerja, sehingga akan mempererat hubungan kerja sama. Selain terjalinnya hubungan profesioanlisme, juga terbangun hubungan inter personal.

  1. Mengontrol perlengkapan dan jadwal kerja

Sebagai pemilik atau owner tentu ingin agar proyek pembangunannya sesuai dengan jadwal yang ditetapkan. Selain cepat selesai, proyek pembangunan juga selesai tanpa ada masalah seperti terjadinya kecelakaan kerja. Oleh karena itu, owner  berhak untuk mengontrol jadwal kerja yang tidak disiplin dari pekerja dan juga perlengkapan kerja yang digunakan para pekerja terlebih alat pelindung diri untuk menjaga keselamatan kerjanya. Sehingga jika owner menjumpai adanya pekerja yang tidak memakai alat pelindung diri, sudah seharusnya bagi owner mengingatkan. Bisa dengan melalui kepala proyek yang sedang mengawasi atau bahkan mengingatkan secara langsung kepada pekerja tersebut. Begitupun juga berkenaan jam kerjanya. Jika ada ketidak kesesuaian jam kerja dengan kesepakatan kontraknya, owner bisa mengingatkan. Sekali dua kali mungkin bisa di toleransi, namun jika sudah berulang maka hal tersebut sudah menjadi moral kerja buruk yang perlu dilakukan penyikapan.

  1. Koordinasi dengan kepala proyek

Kepala proyek adalah pihak yang mewakili para pekerja dan memberikan arahan kepada para pekerja. Komunikasi kepala proyek dengan owner sebaiknya berjalan intensif. Di khawatirkan ada masalah-masalah terkait kebutuhan material, keuangan, yang itu perlu di diskusikan antara kepala proyek dengan owner. Jika tidak ada komunikasi secepatnya maka berjalannya proyek akan lambat karena adanya masalah teknis yang menghambat pekerjaan. Sehingga, owner perlu untuk selalu menjalin komunikasi dengan kepala proyek.Berkenaan pengambilan keputusan-keputusan teknis selalu ada selama proses pembangunan dikerjakan.

  1. Meninjau sistem pengawasan kontraktor

Seperti yang disinggung sebelumnya, bahwa owner tentu ingin agar proyek bangunannya bisa diselesaikan dengan cepat dan tidak ada masalah seperti kecelakaan kerja yang terjadi. Kesemua itu bisa dipenuhi salah satunya melibatkan faktor pengawasan yang baik. Sistem pengawasan ini memang tergantung dari manajemen jasa konstruksi yang terlibat mengenai sistem dan teknisnya seperti siapa yang mengawasi, kapan waktu mengawasi, bagaimana cara mengawasinya, dll. Bagi Owner yang mengerti logika manajemen, terlebih dalam hal sistem kontrol, dan ditunjang dengan pengetahuan medan kerja terkait masalah-masalah kerja yang berpotensi terjadi, sebaiknya bisa ikut terlibat dalam memberikan masukan tentang sistem pengawasan yang sebaiknya dilakukan.
Dari ulasan tersebut bisa kita lihat bahwa owner walaupun memberikan kepercayaan bagi jasa konstruksi untuk melakukan pekerjaannya, bukan berarti owner tidak boleh terlibat selama proses pembangunan proyek yang sedang dikerjakan. Owner masih diprbolehkan namun tetap dalam batasan yang wajar. Karena sejatinya, owner juga di butuhkan perannya selama proses pembangunan terlebih dalam hal-hal masalah teknis yang membutuhkan keputusan owner. Selain itu, owner juga di butuhkan untuk memberikan asumsi kondisi wilayah kerja, seperti iklim, sifat tanah, dan aturan-aturan perumahan yang perlu diketahu para pekerja. Oleh karena itu, interaksi antara owner dan para pekerja di lapangan harus dlakukan. Sehingga, owner harus terlibat dalam proyek pembangunan sesuai dengan batasan dan peranannya.

 

PT Total Imagi Nusantara